Kamis, 27 September 2012

batik jambi angso duo

Karakter dan kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi dulu, tersimbolisasi dalam berbagai karya seni, salah satunya dalam motif batik Jambi.  Meski belum dilakukan kajian mendalam tentang makna filosofis berbagai motif, namun menurut budayawan Jambi Ja’far Rassuh, penggambaran motif tersebut merupakan representasi watak dan karakter masyarakat Melayu Jambi dengan tipikalnya yang sederhana, egaliter dan terbuka terhadap hal-hal lain di luarnya, meski cenderung lamban merespon perubahan.
Motif pokok pada batik Jambi sangat sederhana, tidak rumit dan cenderung konvensional. Mencirikan watak asli masyarakat Melayu Jambi. Jika ada motif batik Jambi yang rumit dan detailnya kompleks, maka bisa jadi itu adalah motif pengembangan baru yang muncul pada dekade 80-an.
Asianto Marsaid dalam bukunya Pesona Batik Jambi yang diterbitkan oleh Kantor Wilayah Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi pada 1998, berupaya menjabarkan makna filosofis dari lima motif pokok batik Jambi. Menurutnya, lima motif pokok yang diurainya itu termasuk motif kuno dan tertua yang pernah ada di Jambi. Lima motif itu meliputi Durian Pecah (?), Merak Ngeram (?), Kuao Berhias (?), Kapal Sanggat (?) dan Tampuk Manggis.
Motif Durian Pecah menggambarkan dua bagian kulit durian yang terbelah, namun masih bertaut pada pangkal tangkainya. Dua belah kulit itu memiliki arti pada masing-masing bagiannya. Belahan pertama merupakan pondasi iman dan taqwa. Bagian satunya lagi lebih bernuansa ilmu pengetahuan dan tehnologi. Makna yang disimpulkan oleh Asianto pada motif Durian Pecah itu ialah, pelaksanakan pekerjaan berlandaskan iman dan taqwa, serta ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi akan memberikan hasil yang baik bagi yang bersangkutan serta keluarga.

0 komentar:

Poskan Komentar